Selasa, 12 Maret 2013
BUKIT BELAKANG RUMAH
Senja
hari ini berwarna merah keemasan. Wajah Nurmala menengadah ke atas, memandang
bentangan cakrawala yang mulai mengeras warna langitnya. Tiba – tiba dia ingat
kepada Yuli, teman semasa dia masih kecil. Tujuh belas tahun silam. Kemudian
tentang ilalang panjang dan pohon jamblang yang terdapat di bukit belakang
rumahnya.
Senja
kesekian kalinya di usia dua puluh enam tahun. Dimana semuanya sudah banyak berubah.
Di bawah kolong langit ini Nurmala hidup sendirian, tidak dengan orang tua,
kakak, adik, atau pun teman masa kecilnya. Semuanya pergi meninggalkannya satu
per satu. Kampung ini telah dihuni dengan manusia – manusia baru.
Ingatan
Nurmala kembali merujuk kepada bukit belakang rumahnya. Dia berjalan menyusuri
jalan setapak yang sedikit becek karena hujan semalaman. Sepanjang jalan
Nurmala menyusuri gang – gang kecil, jalan setapak yang licin, terkadang jalan
dengan material padas. “Sudah banyak berubah,” gumamnya. Sekarang sudah ramai
dipenuhi rumah yang berjajar seadanya. Rumah – rumah mungil yang tidak
memerlukan arsitektur yang rumit, sekiranya hanya dengan dua kamar, ruang tamu,
kamar mandi, dapur yang semuanya serba seadanya. Jarak bukit belakang rumah
menjadi seolah – olah tidak sejauh dulu, atau mungkin sudah terlampau banyak
bangunan sehingga jaraknya terasa dekat. Tapi memang itu yang terasa.
Nurmala
ingat benar, dia dan Yuli harus menyeberang kali kecil yang jernih dahulu untuk
menuju bukit tersebut. Namun sekarang kali tersebut sudah berubah menjadi kali
yang menjijikkan, hanya ada sampah – sampah yang menggunung. Tak habis pikir,
sampah – sampah itulah yang menyebabkan meluapnya aliran kali. Airnya pun sudah
tak layak untuk menjadi konsumsi masyarakat sekitarnya. Nurmala hanya bisa
menghela nafas melihat kondisi kali itu.
Setelah
menyeberang kali yang tertutup sampah, Nurmala sampai di bukit yang dia tuju.
Pohon jamblang yang tua renta itu masih berdiri kokoh, hanya saja daun –
daunnya sudah jarang. Kemudian Nurmala terduduk di bawah pohon tersebut,
menikmati senja yang semakin pekat. Lidahnya tercekat, seakan ada sesuatu yang
menyumbat tenggorokannya untuk sekedar berkata. Matanya nanar melihat deretan
beton – beton yang bercerobong, mengeluarkan asap yang hitam. Mengotori langit
senjanya. Kepulan hitam tersebut membuat langit penuh dengan jelaga, hingga
burung – burung pun enggan menari lagi di angkasa. Tidak ada ilalang panjang
atau bunga – bunga rumput lagi. Tidak ada sapi – sapi yang gemuk yang sedang
memakan rumput yang terhampar luas di bukit tersebut. Semua telah menjadi
cerita. Sekarang hanya ada beton – beton bercerobong dan sapi – sapi kurus yang
mengais - ngais makanan di pembuangan sampah.
Hati
Nurmala pedih, seperti disayat belati. Kenangan semasa kanak –kanaknya telah
musnah tergerus jaman yang semakin menggila. Sejenak pikirnya menerawang jauh
kembali ke masa tujuh belas tahun yang lalu. Tak hayalnya seorang petualang,
Nurmala dan Yuli berjalan menyusuri jalan setapak, memanjat jalan berpadas,
menyeberang kali berair jernih. Dimana pada saat itu pohon jamblang tersebut masih
berdaun lebat dengan batang yang tidak terlalu besar, buah – buahnya pun
bergerombol di tangkai – tangkai pohon yang kokoh. Nurmala duduk bersandingan
dengan Yuli. Masing – masing mereka membawa tas dengan barang bawaannya masing
- masing. Di dalam tas Yuli ada sekerat roti, ubi rebus dan kacang tanah rebus
yang dibungkus dengan plastik bening, tidak lupa juga sebotol air putih. Sedangkan
tas Nurmala hanya ada sebotol air putih, buku gambar, beberapa pensil, dan juga
permen. Ya, memang hanya itu, karena untuk keluar rumah pun dia harus pergi
diam – diam dari orang tuanya. Merunduk serendah – rendahnya saat melewati
kamar ibunya. Berbeda dengan Yuli yang begitu
mudahnya mendapat ijin dari orang tuanya untuk pergi bermain. Terkadang
Nurmala iri dengan Yuli, kedua orang tuanya begitu dekat sekali dengannya.
Berbeda dengan Nurmala, ayahnya sebagai pengusaha yang selalu sibuk setiap
harinya dan hampir tak pernah punya waktu untuknya. Ibunya selalu bersikap keras
kepadanya, lebih mirip seorang ibu tiri yang ada di cerita dongeng - dongeng.
Di
bawah pohon jamblang yang teduh, menghirup udara yang masih benar – benar asri,
duduk beralaskan karung goni. Yuli sedang merangkai bunga – bunga rumput yang
dibuatnya mirip seperti mahkota. Sedangkan Nurmala sibuk dengan buku gambarnya,
melukis jingga yang berarak menuju senja.
“Yul,
kamu suka senja?” tanya Nurmala sembari menggoreskan pensil ke sana sini di
atas buku gambarnya.
“Suka,
kenapa Nur?” Yuli kembali bertanya kepada Nurmala yang masih tetap tekun
menggoreskan pensilnya.
“Aku
juga suka sekali,” Nurmala tiba – tiba menghentikan goresannya. “Yul, aku ingin
selalu bisa melihat senja seperti ini bersama kamu.”
Mata
Nurmala memandang nanar deretan burung – burung belibis yang terbang melewati
gradasi warna yang sedang menari – nari di cakrawala. Yuli menyunggingkan
senyuman, lalu memakaikan mahkota bunga rumputnya kepada Nurmala. Nurmala
mengacungkan kelingkingnya kepada Yuli, tanda persahabatan mereka bersama
senja. Kemudian Yuli pun menyambutnya dengan jari kelingkingnya.
Kemudian
Yuli bangkit dari tempat dia duduk, meraih tangan Nurmala dan mengajaknya ke
tempat gerombolan sapi – sapi dan kambing yang sedang asyik mengunyah rumput.
Ada empat ekor sapi, sepuluh ekor kambing, dan satu ekor kambing masih anakan.
Mereka dibiarkan bebas mencari makan, sedang penggembalanya duduk di bawah
pohon mahoni dan terlihat sedang menyeruput kopi tubruknya.
“Pak..
Pak, itu kambing dan sapi bapak ya?” tanya Yuli dengan tingkah polah kanak –
kanaknya.
“Iya,
itu punya bapak semua,” penggembala tersebut menjawab dengan ramah.
“Kok
dilepas gitu aja sih pak, nggak takut hilang?” tanya Nurmala sambil mengelus –
elus sapi yang sedang asyik makan
“Sapi
dan kambing itu semuanya memang sengaja saya bebaskan, biar mereka tidak stress
berada di kandang terus. Mereka kan juga butuh jalan – jalan seperti kalian,”
Bapak penggembala tersebut tertawa dengan beberapa gigi serinya yang sudah
tanggal. Kontan Nurmala dan Yuli ikut tertawa cekikikan, ditambah lagi melihat
mimik wajah bapak penggembala yang terkekeh dengan gigi ompongnya.
Nurmala
dan Yuli asyik bermain – main dengan kambing milik Bapak penggembala itu. Di
bawah senja yang merona mereka berlari – larian. Hingga mereka merasa lelah
lalu merebahkan diri di atas rerumputan dekat pohon jamblang. “Nur, kamu
percaya reinkarnasi nggak?” tanya Yuli dengan pengetahuan yang masih seadanya.
“emmmm,
mungkin percaya. Kenapa Yul kamu tiba – tiba tanya seperti itu?” seloroh
nurmala sambil memandang bentangan langit yang menjelma menjadi nila, dan
sebentar lagi akan menjadi hitam pekat.
“Kalau
semisal suatu saat Tuhan mengambil nyawamu, kamu ingin menjadi apa di kehidupan
berikutnya?”
“Aku
ingin hidup sebagai burung parkit!” serontak Nurmala menjawab dengan semangat.
“Kenapa
kamu ingin menjadi burung parkit?” Yuli menatap Nurmala sambil mengernyitkan
dahinya.
“Karena
burung parkit itu cantik, memiliki bulu yang beraneka ragam warnanya. Dia bisa
terbang bebas tanpa takut dengan ancaman bahaya. Tuhan menyediakan rumah –
rumahnya di setiap pohon, dan memberikannya makan setiap saat dia butuh. Dan
yang terpenting, aku bisa mengunjungimu setiap saat. Kau bisa temukan aku
bertengger di bingkai jendela kamarmu saat aku menjadi burung parkit itu,” Nurmala menggores
senyuman di atas bibir mungilnya. “Kalau kamu Yul?”
“Kalau
aku dilahirkan kembali, aku ingin menjadi diriku sendiri Nur,” Yuli bangkit
dari tempatnya rebah, kemudian duduk memandang langit yang semakin nila.
“Kamu
curang, kenapa ingin menjadi dirimu lagi?” tanya Nurmala kesal sambil bangkit
dan terduduk kemudian bergeming.
“Kan
biar aku bisa merawat kamu ‘burung parkit’,” Yuli terbahak ketika melihat wajah
Nurmala semakin kesal.
“Kamu
ini malah bercanda Yul,” Nurmala masih saja melengos.
“Ah
kamu gitu aja juga marah, Nur. Ayo kita pulang saja, nanti ibumu marah – marah
lagi. “
Mereka
berlalu meninggalkan pohon jamblang, senja, bunga rumput, dan ilalang panjang.
Kunjungan mereka saat itu adalah untuk terakhir kalinya. Kenangan – kenangan itu
lamat – lamat larut dengan perkembangan jaman yang semakin tak bisa diterka.
Diam
tak bergeming seakan mesin waktu kembali menyeret Nurmala ke masa sekarang.
Mata Nurmala memejam, mendengarkan seloroh angin yang berhembus berbisik di
telinga. Sesaat kelopak kedua matanya terbuka, Yuli sudah ada di sebelahnya.
Serontak Nurmala kaget setengah mati. “Yul, kau kemana saja?!” sambil
melemparnya dengan biji buah jamblang yang telah mengering.
“Saat
itu aku pergi sebentar Nur, maaf aku tidak pamit. Aku sudah berusaha
melambaikan tangan ke arahmu, namun kamu terlihat acuh seakan tak melihatku.
Aku terus terseret oleh air Nur”
“Aku
marah padamu Yul, aku sedih. Kamu sudah janji untuk selalu menemaniku melihat
senja di bawah pohon jamblang ini. Tapi kamu pergi meninggalkanku tanpa pamit.
Kamu tidak tahu kan kalau aku kesepian. Sehari setelah kamu pergi aku mencarimu
di bukit berpadas jalan yang kita lewati
sebelum menyeberang kali, aku terjatuh juga tak ada orang pun yang tahu.”
Nurmala merajuk persis seperti saat dia masih kecil dan sambil menunjukkan
bekas luka di kepalanya.
“Maaf Nur, sekarang aku sudah berada di sini
bersamamu. Tepat di senja jingga di bawah pohon jamblang ini. Lihat Nur, begitu
marahnya ketika aku melihat cerobong – cerobong baja yang mengepulkan asap
berjelaga di langit senja kita. Aku ingin melemparinya dengan segala benda
hingga cerobong asap itu tertutup, hingga asap – asap itu tidak keluar lagi
dari mulut monster – monster itu.”
Nurmala
duduk meringkuk, menangkupkan kedua tangannya ke wajahnya. Dia menangis sendu
hingga air matanya menghujan deras sampai ke tanah. Air itu terus mengalir
meresap ke dalam tanah, jauh… jauh … jauh ke dalam tanah. Air mata Nurmala
mengalir hingga di sekitar tempat Yuli duduk. Meresap hingga ke dalam tanah,
jauh… jauh… jauh ke dalam tanah. Yuli terbelalak, disekitar tempat mereka duduk
tumbuhlah tunas – tunas ilalang panjang dan juga rerumputan. Mereka tumbuh
semakin cepat, seiring aliran air mata Nurmala yang semakin deras. Ilalang
panjang itu mulai tinggi dan rumput – rumput itu mulai berbunga. Kemudian
hinggaplah seekor burung parkit yang mungil di atas pucuk ilalang panjang.
Burung parkit yang sedang memandang bunga rumput yang bergoyang – goyang
terhembus angin. Seakan mereka sedang mengisyaratkan persahabatan yang riang
dan ceria di bawah langit yang merah keemasan.
Bapak
penggembala sapi dan kambing yang sudah sangat tua dan renta, bahkan giginya pun sudah tanggal semua, mengamati liukan bunga
rumput dan burung parkit tersebut. Dalam gumamnya dia berkata lirih, “Burung
parkit cantik dan bunga rumput itu seperti dua anak kecil yang dulu pernah
bermain – main bersama sapi – sapiku dan kambing – kambingku. Mereka terlihat
cantik dan serasi.”
Semarang, 21 Februari 2013
BIDADARI SABTU MALAM
Dalam
balutan angin malam yang mulai mengkristal, Ardian duduk di kursi sebuah taman
dekat kota. Sabtu malam di Paris. Menunggu di tengah derai rindu yang selalu
memburu. Tak berapa lama, seorang wanita bertubuh tinggi semampai mengenakan gaun
warna hitam, datang menghampiri Ardian. Wanita keturunan indo Perancis.
Angelique namanya. Dengan jemarinya yang lentik dan tangannya yang halus,
Angelique menyambut tangan Ardian. Kemudian tubuh mereka lenyap dalam gemerlap
kota. Berjalan bergandengan tangan menyusuri keramaian kota dalam balutan ingar
yang bingar.
Mereka
berdua memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran berbintang. Kemudian mereka
terlihat sedang terlibat percakapan dengan pelayan restoran.
Ardian:
Vous avez une table pour deux personnes?
( Ada tempat untuk dua orang?)
GarÒ«on:
Qui, monsieur, S’il vous plait. (Ada
pak, silakan.)
Ardian
dan Angelique mengikuti pelayan tersebut ke meja yang ditunjuk. Sembari
mempersilakan mereka duduk, pelayan restoran tersebut kemudian menyodorkan
daftar menu makanan dan anggur.
GarÒ«on:
La selle d’agneau est notre spécialité
d’aujourd’hui. (Punggung domba muda adalah sajian khusus hari ini. )
Ardian:
On va prendre le menu du jour. (Saya
pesan menu khusus hari ini.)
Angelique:
Apportez-moi du saumon à l’américaine,
s’il vous plait. (Berikan saya ikan salmon ala Amerika)
GarÒ«on:
Très bien, Madame. Comme boisson?
(Baik Bu, minumnya apa Bu?)
Angelique:
Une bouteille de vin rouge de la maison,
s’il vous plait. (Satu botol anggur merah dari restoran ini.)
Tak
bisa dibayangkan, pertemuan ini benar-benar ditunggu mereka. Kesempatan yang
sangat sayang sekali untuk disia-siakan. Duduk pada satu meja, dan saling
berhadap-hadapan. Mata bertemu mata. Wajah Angelique masih sama seperti sepuluh
tahun yang lalu, dengan rambut cokelatnya yang tergerai membuat yang memandang
semakin bergairah. Bibir tipis yang telukis memerah, begitu menggoda untuk
sekedar menggigitnya lembut. Ardian tak habis-habisnya memandang paras
Angelique nan cantik jelita. Wanita yang sejak SMA dia kagumi. Wanita yang
dianggapnya mendekati sempurna. Malam ini tak akan pernah disia-siakan oleh
Ardian, Ia akan mencurahkan segala yang ada di dalam hatinya. Menyerahkan
jiwanya hanya untuk Angelique.
Malam
sepertinya lebih memilih untuk menjadi gamang. Mereka berdua sudah berada dalam
apartemen milik Angelique. Apartemen dengan dinding-dinding yang mulai membeku
dalam kubu yang beradu. Bibir Angelique mempertahankan suhunya hingga tetap
hangat dalam lumatan bibir Ardian. Lidahnya seakan tercekat, tak mampu berkelu
apalagi berkata-kata. Hanya ada lenguhan, dimana saat Ardian dapat memandang
wajah Angelique yang juga hanya bisa melenguh. Malam yang bergeming, dalam
pelukan Ardian ada tubuh seorang wanita yang selama bertahun-tahun Ia cintai
dalam diam. Tubuhnya yang tinggi tetapi juga sintal meringkuk dalam naungan
lengan Ardian yang kekar.
Dalam
selimut yang kisut, di atas sprei yang berkerut tak beraturan, tubuh mereka
rebah saling bertumpuan. Cahaya kemuning berpendar dari lampu yang berada di
atas meja samping kiri tempat tidur. Kemudian cahaya tersebut menciptakan siluet
yang menggeliat pada dinding yang semakin mendingin. Semakin liar di kala malam
mencengkeram. Cermin yang tergantung tepat berhadapan dengan ranjang yang mulai
ringsut karena ulah mereka berdua, seakan sedang merekam kisah mereka dalam
kilau pantulannya. Jejeran buku-buku yang tertata rapi di rak, seakan saling
berbisik satu sama lain melihat kehangatan kisah mereka yang sedang beradu.
Ranjang berdecit seakan berteriak tanda tak mampu lagi menopang tubuh mereka
yang semakin menggelinjang.
Hingga
kemudian yang ada adalah ‘diam’ dan angin yang sedang berseloroh lewat celah
jendela yang sedikit terbuka. Wajah mereka saling berhadap-hadapan, sesekali
tangan Ardian membelai rambut cokelat Angelique. “Je suis amoureux de toi (aku cinta kamu),” suara Ardian berbisik
lembut di telinga Angelique. “Je t’aime
de tout mon coeur. Je veux être avec toi. (Aku mencintaimu sepenuh hatiku.
Aku ingin bersama kamu.),” Angelique membalasnya dengan suara tak kalah
lembutnya. Kemudian mengecup kening Ardian yang sedikit berkeringat. Mereka
rebah, puas lelas meringkuk di atas ranjang. Dengan senyum yang melengkung di
atas masing-masing bibir mereka.
Suara
alarm berteriak seperti sedang menghardik Ardian. Ia pun terperanjat hingga
jatuh ke lantai. Pukul 05.00 A.M masih terlalu pagi untuk bangun di hari minggu
yang malas. Sepucuk kartu pos yang terselip di bawah ranjang tak luput dari
penglihatan Ardian. Kartu pos bergambar menara Eiffel yang bertuliskan ‘Je prie toujours pour ton bonheur’ (Aku
selalu berdoa untuk kebahagiaanmu). Dari Angelique.
Ardian
terduduk di atas ranjang, termenung dalam lantunan sendu. Kartu pos yang telah
dikirimkan Angelique lima tahun silam. Ardian terkesiap. Kemudian menoleh ke
samping kanannya. Seorang wanita cantik sedang terlelap dalam biusan mimpi.
Seperti halnya Ardian yang juga telah terbius dalam mimpi yang memabukkan.
Mabuk hingga tak bisa membedakan mana itu mimpi atau nyata. Wanita cantik yang
benar-benar cantik, yang telah melahirkan seorang putra baginya. Wanita yang
telah dinikahinya lima tahun silam. Wanita yang sekedar ia cintai, tak seperti
halnya cinta diam-diamnya kepada Angelique. Tapi juga wanita yang selalu sabar
menghadapi sifat keras kepalanya. Wanita yang selalu setia bersanding
dengannya, meskipun sedikit banyak Ardian masih berhubungan dengan cinta
diam-diamnya.
Tak
sepantasnya wanita cantik yang benar-benar cantik itu ia abaikan. Bibir Ardian
bergetar. Jemarinya serasa kaku saat ingin menggapai tubuh wanita cantik itu.
Wanita cantik itu bukan Angelique. Tapi seharusnya ia melindunginya lebih dari
cinta diam-diamnya itu. Ardian menekuk kakinya hingga lututnya sejajar dengan
dadanya. Kemudian ia membenamkan wajahnya diantara kedua tangannya yang
menyimpul di atas lutut.
“Sayang….”
Wanita cantik itu memanggil lembut. “Kamu kenapa sayang?”
Ardian
terkesiap, dan hanya bisa memandang wajah wanita cantik itu yang berbinar
diantara silaunya sinar mentari pagi itu. Wajah cantiknya seperti bidadari,
tapi bukan Angelique. Ardian menyergap tubuh wanita itu, tanpa kata tanpa
suara. Memeluk semakin erat, mengusap rambut hitamnya yang pekat. “Bidadariku.”
Catatan
: GarÒ«on adalah sebutan untuk seorang pelayan restoran dalam bahasa perancis.
Semarang,
17 Februari 2013
LUKISAN CAHAYA
“Siapa
sih itu?”
“Mana?”
“Cewek
di seberang meja kita. Yang lagi sibuk ngetik.”
Suara
kedua laki-laki itu terdengar lamat-lamat dari telingaku, karena suasana kafe
yang riuh melenguh. Sesekali aku memperhatikan mereka sembari menghisap puntung
rokok yang masih setengah di tanganku. Tanpa sadar salah satu dari antara
mereka mengarahkan kamera DSLR
kepadaku dan flash yang berasal dari kamera tersebut membuatku terkesiap. Langkahnya
gontai menghampiriku. Sepertinya sedikit mabuk, tapi tidak ada botol chivas regal, cointreau, Red Label, atau
semacam minuman yang saya sebut tadi di mejanya. Dia sudah duduk di depanku begitu
saja. Sedikit risih memang, namun tetap mencoba untuk tenang. Tiba-tiba saja ia
mengulurkan tangan. “Dave” Tanganku menyambutnya, “Violet”.
Ayahku keturunan Tionghoa-Belanda,
sedang ibuku seorang jawa pribumi. Aku lahir dari keluarga yang sederhana,
walaupun konon katanya kakekku adalah seorang pengusaha kaya yang terkenal pada
jamannya. Namun hal tersebut tidak membuatku hidup bergelimangan harta. Koleps.
Paling tidak cukup untuk hidup sehari-hari itu sudah bersyukur sekali. Sejarah
yang diukir oleh keluargaku tersebut mengajarkanku bahwa segala yang ada di
dunia ini tidaklah kekal. Punya banyak perusahaan, harta melimpah,
sampai-sampai satu orang anak diberi satu orang kacung, padahal ada enam anak
kalau saya tidak salah ingat. Lalu, mobil-mobil keluaran Eropa dan Amerika
berjejer memenuhi garasi, padahal pada saat itu punya mobil satu saja sudah
bisa disebut mentereng. Beberapa lemari
berisi jas, dasi, sepatu dan jam tangan yang bisa dilihat labelnya bertuliskan
‘made in Paris’, ‘made in Italy’, ‘made in Germany’. Tapi kekikiran seorang
manusia yang tega berhianat kepada saudaranya sendiri membuat semua yang fana
itu lenyap. Perusahaan ‘Naga’ yang dipersiapkan untuk anak laki-lakinya tiba-tiba diambil alih oleh saudara
sepupunya. Hingga sampai pada suatu saat Pengusaha kaya yang kupanggil dengan
‘engkong’ tersebut jatuh sakit. Dan pada akhirnya semuanya menjadi hancur.
Hingga tidak ada jejaknya sama sekali. Hanya ada perusahaan ‘Naga’ tersebut
masih berdiri gagah di kota Jakarta. Itupun bukan lagi atas nama beliau. Dunia
itu kejam. Dunia mengajarkanku menjadi orang yang keras, namun tidak melupakan
sosialitas……..
“Hey!
Serius amat nih.” Suara Dave memecahkan konsentrasiku.
“Bawel
ih. Nggak lihat apa aku lagi bikin tulisan.” Mataku melotot ke arah Dave
sembari melepas kacamataku.
“Iya Sorry. Cerita apa ini Vi?”
“Cerita
pendek, mau aku kirim untuk lomba cerpen.”
“Tentang
kamu ?”
“Ih
pengen tahu aja deh. Ntar kalau udah kelar aku kasih lihat deh.” Lalu aku segera
membereskan dan memasukan barang-barang yang tergeletak di meja ke dalam tas
ranselku.
“Yuh
makan siang, sambil aku mau omongin konsep foto buat kamu. Aku nggak betah
lama-lama di perpustakaan ini.”
“Konsep
apaan? Aku kan udah bilang nggak mau
difoto sama fotografer gadungan kayak kamu.” Sambil pelan memukulkan majalah ke
kepala Dave aku segera melangkah keluar, Dave pun menyusulku.
***
Sinar
lembut yang berpendar dari softbox, yang diatur sedemikian rupa membuat terang
benderang menyorot tubuhku. Lagi-lagi cahaya flash menyentak pupilku hingga
menciut, ketika Dave sibuk memencet tombol shutter dari kameranya. Aku menerima
tawaran Dave untuk dijadikannya modelnya. Untuk melengkapi portofolio katanya,
dan saat melihat konsepnya aku langsung tertarik. Ya aku pikir apa salahnya
membantu teman. Waktu dua bulan menurutku
sudah cukup untuk mengenal Dave. Begitu juga karya-karyanya yang tidak
sekedar menampilkan kecantikan model-modelnya, namun aku bisa melihat proporsi
dan komposisi dalam gambar tersebut yang begitu harmonis. Aku bisa melihat dan
merasakan bahwa Dave memiliki jiwa seni yang tinggi.
Dibantu
dengan Roby sebagai asistennya, dia membangun studio foto yang berperalatan
lengkap. Ya maklum saja, Dave anak orang kaya. Hampir semua peralatan yang
berhubungan dengan photography dia punya. Aku tak habis pikir, dengan peralatan
yang mahal tersebut dan dengan sedikit latihan, aku yakin hasilnya akan bagus.
Hal itu sudah terdengar biasa bukan. Namun akan berbeda lagi jika dengan segala
keterbatasan alat, diolah dengan tangan yang tepat, dan hasilnya bisa maksimal.
Nah itu baru disebut dengan luar biasa. Tapi bukan berarti Dave termasuk
photographer yang digolongkan manja dengan kemewahan alat. Dengan camera pocket pun hasilnya jepretannya
tidak kalah bagus. Menjadikan lukisan cahaya itu begitu bernilai.
Sore
ini aku memutuskan hanya ingin berdiam di kamar saja sambil menyelesaikan
tulisanku. Rinai hujan, lembab bau tanah menciptakan atmosphere yang meriak
dalam otakku. Begitu banyak ide yang membuncah tak sabar ingin keluar. Kamar
kost berbentuk kubus beton yang lebih menyerupai gudang, lantas tak membuat passion-ku padam begitu saja. Menurutku
dimana pun imaginasi dan ide bisa tercurah. Yang memerintah adalah otak kita,
bukan suasana sekitar kita. Aku bisa menciptakan atmosphere-ku sendiri dengan
jalan pikiranku sendiri.
Ketika
jari-jemariku menari di atas keyboard
laptop, tiba-tiba Dave sudah ada di belakangku. Kepalanya melongok begitu
saja ke arah layar laptop. Serontak badanku menyembul ke atas karena kaget.
“Ketok
pintu dulu kek!” Tungkasku kepada Dave dengan jengkel.
“Ya
abisnya itu pintu nggak ditutup, aku panggil nggak denger. Ya udah aku masuk
gitu aja.”
“Iya,
sengaja aku buka pintunya, biar hawa luar bisa masuk.”
“Eh
Vi, aku ke sini mau cerita ke kamu tentang portofolioku.”
“Cerita
apa? Ya udah cerita aja deh, aku dengerin.”
“Jadi
gini, kemarin pagi aku dapet email dari designer terkenal. Dia ngeliat
portofolioku di web yang memang aku buat khusus untuk promosiin hasil karyaku.
Tadi siang aku udah ketemu sama orang itu, dia setuju make jasaku untuk bikin
katalog rancangan busananya. Nah ini nih yang paling penting, dia mau modelnya
itu kamu.”
“Haaa?”
“Ha
he ho ha he ho, dia mau besok lusa kita udah siap. Kamu mau kan bantu aku?
Masalah duit gampang deh. Nanti kita bagi tiga, Aku, Roby, Kamu. Adil kan.”
“Gila
kamu, kenapa nggak tanya aku dulu setuju atau enggak. Maen deal-deal-an seenaknya.” Kataku pada Dave, sembari meraih cangkir
berisi kopi tubruk.
“Ini
kesempatan Vi, nggak semua model bisa gampang banget mengenakan busana
rancangannya. Dia kan memang terkenal nyentrik dalam memilih model. Gimana?
Coba deh pikirin dulu. Kesempatan nggak datang dua kali.”
*hening*
Hanya ada suara rerintik hujan. Risau angin yang berhembus, menyibak reruntuhan
kabut yang mulai menebal di otakku. Larut-hanyut-larut-hanyut kemudian pergi.
Di
tengah lambungan mimpi sisa semalam, aku terhenyak dari antaranya. Suara dari
ponselku menghardik berulang-ulang, dari Dave. Sepuluh menit lagi dia akan
sampai di kostku, aku disuruh bersiap-siap untuk pemotretan. Seenaknya sendiri
dia memerintahku, tanpa memberitahukan jam pemotretannya terlebih dahulu.
Segeralah aku pergi mandi dan bersiap-siap. Namun baru saja aku meraih handuk,
Dave sudah berada di ambang pintu kamar kostku.
“Wiliiih,
dasar kamu kebo Vi, kalo nggak aku bangunin pasti deh tu nggak bangun.”
“Lagian
juga kamu mendadak gitu kabarinnya. Nggak kasih tahu jam berapa mulainya.”
Sahutku sambil berjalan melangkah ke kamar mandi.
“Heh,
baca tuh message di ponsel kamu. Perasaan juga tidur awal, bangun juga masih
bisa siang gini.”
“Dasar
bawel, mana ada tu message.” Teriakku dari dalam kamar mandi, namun Dave tak
menyahut lagi.
Dengan
langkah yang buru-buru aku segera menuju ke mobil bersama Dave. Dengan
berbusana seadanya, kaos, celana jeans dan juga sneakers. Rambut panjangku pun
kuikat semauku. Namun Dave tak berkomentar apapun dengan cara berpakaianku yang
terlampau santai ini. Baginya tak masalah dengan penampilan, yang dia utamakan
adalah skill dan profesionalitas. Katanya sih walau aku nggak cantik, tapi
tampangku menjual. Ya, dia lah yang mengerti photography. Dia juga yang
mengerti mana yang pas atau mana yang kurang pas.
Sesampainya
kami di tempat pemotretan, Roby sudah stand by di sana untuk menyetting
lighting dan peralatan lainnya. Aku langsung disambut dengan asisten Tante
Grace sang designer terkenal. Asistennya yang bernama Mbak Lutfi, tampak
memandang keberadaanku dengan remeh sekali. Seperti ada hal yang membuatnya
tidak suka padaku, caraku berpakaian mungkin. Entahlah. Ya tentunya tak
kuhiraukan dia. Deretan peralatan make
up sudah siap menghiasi wajahku. Hingga kemudian aku siap untuk berpose di
depan kamera.
Selesai
pemotretan Dave mengajakku mampir ke kafe biasa kami kunjungi. Senja yang tak
bergeming, menanti remahan kisah kasih yang telah menggebu. Sayang sekali
jingga yang seharusnya menari indah di bentangan cakrawala, tak dapat kunikmati
di tengah kota yang riuh gemuruh ini. Hanya ada selorot mentari yang menyisakan
cahayanya lewat tingkap jendela.
“Hey,
ngalamun aja, Vi.” Ujar Dave kepadaku yang sedang asyik melihat pemandangan
jalan lewat celah jendela.
“Ah,
enggak. Mungkin kecapekan kali Dave.”
“Ya
udah, makan dulu.”
“Iya,
nanti aja deh Dave. Nggak laper.”
“Eh
Vi, entar aku nebeng tidur di kost kamu ya. Please.”
“haah?!
Ngapain kamu. Itu tu ikut Roby aja. Nggak tidur di studio aja? Kenapa sih
kamu?”
“Lagi
ada masalah sama Papah, males pulang aja Vi. Si Roby kan ada istrinya, nah aku
jadi nggak enak.” Tatapan mata Dave seakan tidak tenang, tanggannya gemetar dan
sesegera mengambil sebatang rokok dan menyalakannya dengan pematik.
“Hadeeeeh,
emank ya kamu ini. Udah tua pake kabur-kabur segala. Ya udah, tapi inget
semalem aja. Satu lagi, kamu tidur di sofa.”
“Iya
bawel, lagian nggak akan deh macem-macem.”
Malam
ini angin berhembus sedikit kencang. Kuintip dari celah jendela kamarku bulan
melengkungkan senyuman yang membuatku pun ikut tersenyum. Aku berniat
melanjutkan tulisanku. Sejenak kuperhatikan Dave yang sedang membersihkan
perangkat kameranya, tak banyak kata. Tak seperti biasanya. Aku tak mendesaknya
untuk cerita. Aku hanya diam dalam duniaku sendiri, bergeming dalam
tulisan-tulisanku.
Sudah
kelewat malam mataku terus beradu dengan layar laptop. Malam telah larut, dan
kulihat Dave pun larut dalam deraian mimpi. Tubuhnya yang tinggi besar terlelap
di atas tempat tidurku, seperti beruang yang sedang hibernasi. Paras Dave yang
sedang terlelap mengundangku untuk tersenyum. Tampan. Ah, sudahlah. Kemudianku
kembali hanyut dalam barisan kata-kata dan imaginasiku yang menjadi liar.
Secercah
cahaya mentari mengintip lewat celah-celah tirai jendela. Tak sadar kalau
kepalaku tergeletak di atas meja, dengan laptop masih menyala. Kudapati Dave
sudah tidak ada di tempat tidur. Saat kutengok dari jendela mobilnya masih
parkir di halaman depan. Suara engsel pintu yang mereot mengagetkanku.
“Kamu
capek ya Vi? Ini aku bawain sarapan. Tadinya mau aku ajak keluar sekalian, tapi
nggak tega bangunin kamu.” Ujar Dave dengan menyodorkan sebungkus makanan
kepadaku. Aku hanya bergeming, serasa roh-roh yang tinggal dalam tubuhku belum
genap kembali lagi.
“Udah
sana mandi dulu, abis itu makan.” Kata Dave sembari mengacak-acak rambutku.
“Iiih
iya iya bawel.” Aku langsung menyambar handuk dan menuju kamar mandi.
***
Sudah
genap dua minggu aku tak bertemu Dave, menerima SMS atau teleponnya pun tidak.
Gelisah bercampur resah. Aku hanya mendapat pesan singkat dari Roby, yang
menyuruhku untuk mengambil fee ke studio. Aku tak habis pikir, kenapa tidak
Dave sendiri yang menghubungiku. Biasanya juga dia langsung meneleponku. Sekarang
aku sudah berada di studio, namun tak kudapati Dave. Hanya ada Roy, yaitu adik
Dave dan Roby. Roy memang akhir-akhir ini sering membantu mengelola studio
tersebut.
“By,
anyway si Dave kemana?” Tanyaku kepada Roby yang sedang sibuk mengolah foto.
Roby
seperti risau, gelagatnya tak tenang. Lalu sesekali memandang ke arah Roy, dan
kemudian mereka hanya saling beradu pandang. Dengan derap langkahnya yang
seakan terseok, parasnya terlihat muram, Roy menghampiriku.
“Vi,
kita ke rumahku saja ya. Aku mau nunjukin sesuatu ke kamu.” Suara Roy tercekat,
begitu dalam.
“Ada
apa sih ini?” Namun kemudian Roy meraih pergelangan tanganku dan mengajakku
pergi ke rumahnya.
Di
setiap perjalanan Roy hanya bungkam. Pandangannya terus menuju ke depan, tak
menghiraukanku yang duduk di sebelahnya. Aku tak mengerti, aku mencoba
mengikuti alurnya saja. Dan aku pun diam sampai akhirnya sampai di rumahnya.
“Terus
Dave dimana?” Tanyaku kepada Roy, ketika dia membawaku masuk ke kamar Dave. Kulihat
di dinding-dinding kamarnya terdapat foto-fotoku. Ha? Ya semua itu foto-foto
wajahku. Aku tertegun melihat semua ini.
“Vi,
aku mau sampein pesan Dave untuk kamu. Tapi janji kamu jangan marah atau sedih,
atau apapun yang bikin Dave juga ikut sedih.”
“Apa
Roy?” Tanyaku dalam geming.
“Aku
minta maaf karena kami tidak memeberimu kabar, ini permintaan Dave. Kalau Dave
sudah….”
“Dave
kenapa? Ada apa dengan Dave?” Tanyaku semakin menghujam tajam.
“Dave
meninggal, Vi.”
Lidahku
seperti tercekat mendengarnya. Wajahku serasa ditampar. Serontak air mataku tak
mampu bertahan di kelopak mata. Mengucur deras.
“Dia
terkena kangker otak, yang sebenarnya sudah lama dideritanya. Setelah pulang
dari menginap di tempatmu penyakitnya kambuh, dia terus-terusan menghantamkan
kepalanya ke dinding. Aku pun tak tega melihat keadaannya. Dokter pun tak bisa
menyelamatkannya, karena memang begitu kejamnya penyakit itu hingga menyebar
dan menggerogoti tubuhnya. Dave tidak mau kamu tahu penderitaannya, maka dari
itu dia menyembunyikan semua ini ke kamu. Vi, Dave sayang banget sama kamu.”
Roy memberikan sepucuk surat kepadaku. Dari Dave.
Selembar
kertas yang bertuliskan huruf-huruf dengan tinta pena berwarna hitam pekat itu, selebihnya aku sebut sembilu. Rasanya seperti
menghujam dadaku berkali-kali. Dave bilang di surat itu kalau dia sayang
padaku, namun ini tak adil. Dia tak mengijinkan aku untuk memberitahukan
perasaanku. Ini seperti bilur yang tersiram buih ombak pantai. Perih. Tangisku
sesenggukan. Roy memelukku untuk meredam tangisku. Dia pun tak sanggup menahan
aliran air matanya, ketika melihatku terpuruk.
***
Cerita
pendekku sudah selesai.
***
“Siapa
sih itu?”
“Mana?”
“Cewek
di seberang meja kita. Yang lagi sibuk ngetik.”
Suara
kedua laki-laki itu terdengar lamat-lamat dari telingaku, karena suasana kafe
yang riuh melenguh. Sesekali aku memperhatikan mereka sembari menghisap puntung
rokok yang masih setengah di tanganku. Tanpa sadar salah satu dari antara
mereka mengarahkan kamera DSLR
kepadaku dan flash yang berasal dari kamera tersebut membuatku terkesiap.
Langkahnya gontai menghampiriku. Sepertinya sedikit mabuk, tapi tidak ada botol
chivas regal, cointreau, Red Label,
atau semacam minuman yang saya sebut tadi di mejanya. Dia sudah duduk di
depanku begitu saja. Sedikit risih memang, namun tetap mencoba untuk tenang.
Tiba-tiba saja ia mengulurkan tangan. “Roy” Tanganku menyambutnya, “Carmella”.
SEMARANG, 02 FEBRUARI 2013
Langganan:
Postingan (Atom)


