Selasa, 12 Maret 2013

URBAN


BUKIT BELAKANG RUMAH



Senja hari ini berwarna merah keemasan. Wajah Nurmala menengadah ke atas, memandang bentangan cakrawala yang mulai mengeras warna langitnya. Tiba – tiba dia ingat kepada Yuli, teman semasa dia masih kecil. Tujuh belas tahun silam. Kemudian tentang ilalang panjang dan pohon jamblang yang terdapat di bukit belakang rumahnya.
Senja kesekian kalinya di usia dua puluh enam tahun. Dimana semuanya sudah banyak berubah. Di bawah kolong langit ini Nurmala hidup sendirian, tidak dengan orang tua, kakak, adik, atau pun teman masa kecilnya. Semuanya pergi meninggalkannya satu per satu. Kampung ini telah dihuni dengan manusia – manusia baru.
Ingatan Nurmala kembali merujuk kepada bukit belakang rumahnya. Dia berjalan menyusuri jalan setapak yang sedikit becek karena hujan semalaman. Sepanjang jalan Nurmala menyusuri gang – gang kecil, jalan setapak yang licin, terkadang jalan dengan material padas. “Sudah banyak berubah,” gumamnya. Sekarang sudah ramai dipenuhi rumah yang berjajar seadanya. Rumah – rumah mungil yang tidak memerlukan arsitektur yang rumit, sekiranya hanya dengan dua kamar, ruang tamu, kamar mandi, dapur yang semuanya serba seadanya. Jarak bukit belakang rumah menjadi seolah – olah tidak sejauh dulu, atau mungkin sudah terlampau banyak bangunan sehingga jaraknya terasa dekat. Tapi memang itu yang terasa.
Nurmala ingat benar, dia dan Yuli harus menyeberang kali kecil yang jernih dahulu untuk menuju bukit tersebut. Namun sekarang kali tersebut sudah berubah menjadi kali yang menjijikkan, hanya ada sampah – sampah yang menggunung. Tak habis pikir, sampah – sampah itulah yang menyebabkan meluapnya aliran kali. Airnya pun sudah tak layak untuk menjadi konsumsi masyarakat sekitarnya. Nurmala hanya bisa menghela nafas melihat kondisi kali itu.
Setelah menyeberang kali yang tertutup sampah, Nurmala sampai di bukit yang dia tuju. Pohon jamblang yang tua renta itu masih berdiri kokoh, hanya saja daun – daunnya sudah jarang. Kemudian Nurmala terduduk di bawah pohon tersebut, menikmati senja yang semakin pekat. Lidahnya tercekat, seakan ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya untuk sekedar berkata. Matanya nanar melihat deretan beton – beton yang bercerobong, mengeluarkan asap yang hitam. Mengotori langit senjanya. Kepulan hitam tersebut membuat langit penuh dengan jelaga, hingga burung – burung pun enggan menari lagi di angkasa. Tidak ada ilalang panjang atau bunga – bunga rumput lagi. Tidak ada sapi – sapi yang gemuk yang sedang memakan rumput yang terhampar luas di bukit tersebut. Semua telah menjadi cerita. Sekarang hanya ada beton – beton bercerobong dan sapi – sapi kurus yang mengais - ngais makanan di pembuangan sampah.
Hati Nurmala pedih, seperti disayat belati. Kenangan semasa kanak –kanaknya telah musnah tergerus jaman yang semakin menggila. Sejenak pikirnya menerawang jauh kembali ke masa tujuh belas tahun yang lalu. Tak hayalnya seorang petualang, Nurmala dan Yuli berjalan menyusuri jalan setapak, memanjat jalan berpadas, menyeberang kali berair jernih. Dimana pada saat itu pohon jamblang tersebut masih berdaun lebat dengan batang yang tidak terlalu besar, buah – buahnya pun bergerombol di tangkai – tangkai pohon yang kokoh. Nurmala duduk bersandingan dengan Yuli. Masing – masing mereka membawa tas dengan barang bawaannya masing - masing. Di dalam tas Yuli ada sekerat roti, ubi rebus dan kacang tanah rebus yang dibungkus dengan plastik bening, tidak lupa juga sebotol air putih. Sedangkan tas Nurmala hanya ada sebotol air putih, buku gambar, beberapa pensil, dan juga permen. Ya, memang hanya itu, karena untuk keluar rumah pun dia harus pergi diam – diam dari orang tuanya. Merunduk serendah – rendahnya saat melewati kamar ibunya. Berbeda dengan Yuli yang begitu  mudahnya mendapat ijin dari orang tuanya untuk pergi bermain. Terkadang Nurmala iri dengan Yuli, kedua orang tuanya begitu dekat sekali dengannya. Berbeda dengan Nurmala, ayahnya sebagai pengusaha yang selalu sibuk setiap harinya dan hampir tak pernah punya waktu untuknya. Ibunya selalu bersikap keras kepadanya, lebih mirip seorang ibu tiri yang ada di cerita dongeng - dongeng.
Di bawah pohon jamblang yang teduh, menghirup udara yang masih benar – benar asri, duduk beralaskan karung goni. Yuli sedang merangkai bunga – bunga rumput yang dibuatnya mirip seperti mahkota. Sedangkan Nurmala sibuk dengan buku gambarnya, melukis jingga yang berarak menuju senja.
“Yul, kamu suka senja?” tanya Nurmala sembari menggoreskan pensil ke sana sini di atas buku gambarnya.
“Suka, kenapa Nur?” Yuli kembali bertanya kepada Nurmala yang masih tetap tekun menggoreskan pensilnya.
“Aku juga suka sekali,” Nurmala tiba – tiba menghentikan goresannya. “Yul, aku ingin selalu bisa melihat senja seperti ini bersama kamu.”
Mata Nurmala memandang nanar deretan burung – burung belibis yang terbang melewati gradasi warna yang sedang menari – nari di cakrawala. Yuli menyunggingkan senyuman, lalu memakaikan mahkota bunga rumputnya kepada Nurmala. Nurmala mengacungkan kelingkingnya kepada Yuli, tanda persahabatan mereka bersama senja. Kemudian Yuli pun menyambutnya dengan jari kelingkingnya.
Kemudian Yuli bangkit dari tempat dia duduk, meraih tangan Nurmala dan mengajaknya ke tempat gerombolan sapi – sapi dan kambing yang sedang asyik mengunyah rumput. Ada empat ekor sapi, sepuluh ekor kambing, dan satu ekor kambing masih anakan. Mereka dibiarkan bebas mencari makan, sedang penggembalanya duduk di bawah pohon mahoni dan terlihat sedang menyeruput kopi tubruknya.
“Pak.. Pak, itu kambing dan sapi bapak ya?” tanya Yuli dengan tingkah polah kanak – kanaknya.
“Iya, itu punya bapak semua,” penggembala tersebut menjawab dengan ramah.
“Kok dilepas gitu aja sih pak, nggak takut hilang?” tanya Nurmala sambil mengelus – elus sapi yang sedang asyik makan
“Sapi dan kambing itu semuanya memang sengaja saya bebaskan, biar mereka tidak stress berada di kandang terus. Mereka kan juga butuh jalan – jalan seperti kalian,” Bapak penggembala tersebut tertawa dengan beberapa gigi serinya yang sudah tanggal. Kontan Nurmala dan Yuli ikut tertawa cekikikan, ditambah lagi melihat mimik wajah bapak penggembala yang terkekeh dengan gigi ompongnya.
Nurmala dan Yuli asyik bermain – main dengan kambing milik Bapak penggembala itu. Di bawah senja yang merona mereka berlari – larian. Hingga mereka merasa lelah lalu merebahkan diri di atas rerumputan dekat pohon jamblang. “Nur, kamu percaya reinkarnasi nggak?” tanya Yuli dengan pengetahuan yang masih seadanya.
“emmmm, mungkin percaya. Kenapa Yul kamu tiba – tiba tanya seperti itu?” seloroh nurmala sambil memandang bentangan langit yang menjelma menjadi nila, dan sebentar lagi akan menjadi hitam pekat.
“Kalau semisal suatu saat Tuhan mengambil nyawamu, kamu ingin menjadi apa di kehidupan berikutnya?”
“Aku ingin hidup sebagai burung parkit!” serontak Nurmala menjawab dengan semangat.
“Kenapa kamu ingin menjadi burung parkit?” Yuli menatap Nurmala sambil mengernyitkan dahinya.
“Karena burung parkit itu cantik, memiliki bulu yang beraneka ragam warnanya. Dia bisa terbang bebas tanpa takut dengan ancaman bahaya. Tuhan menyediakan rumah – rumahnya di setiap pohon, dan memberikannya makan setiap saat dia butuh. Dan yang terpenting, aku bisa mengunjungimu setiap saat. Kau bisa temukan aku bertengger di bingkai jendela kamarmu saat aku menjadi  burung parkit itu,” Nurmala menggores senyuman di atas bibir mungilnya. “Kalau kamu Yul?”
“Kalau aku dilahirkan kembali, aku ingin menjadi diriku sendiri Nur,” Yuli bangkit dari tempatnya rebah, kemudian duduk memandang langit yang semakin nila.
“Kamu curang, kenapa ingin menjadi dirimu lagi?” tanya Nurmala kesal sambil bangkit dan terduduk kemudian bergeming.
“Kan biar aku bisa merawat kamu ‘burung parkit’,” Yuli terbahak ketika melihat wajah Nurmala semakin kesal.
“Kamu ini malah bercanda Yul,” Nurmala masih saja melengos.
“Ah kamu gitu aja juga marah, Nur. Ayo kita pulang saja, nanti ibumu marah – marah lagi. “
Mereka berlalu meninggalkan pohon jamblang, senja, bunga rumput, dan ilalang panjang. Kunjungan mereka saat itu adalah untuk terakhir kalinya. Kenangan – kenangan itu lamat – lamat larut dengan perkembangan jaman yang semakin tak bisa diterka.
Diam tak bergeming seakan mesin waktu kembali menyeret Nurmala ke masa sekarang. Mata Nurmala memejam, mendengarkan seloroh angin yang berhembus berbisik di telinga. Sesaat kelopak kedua matanya terbuka, Yuli sudah ada di sebelahnya. Serontak Nurmala kaget setengah mati. “Yul, kau kemana saja?!” sambil melemparnya dengan biji buah jamblang yang telah mengering.
“Saat itu aku pergi sebentar Nur, maaf aku tidak pamit. Aku sudah berusaha melambaikan tangan ke arahmu, namun kamu terlihat acuh seakan tak melihatku. Aku terus terseret oleh air Nur”
“Aku marah padamu Yul, aku sedih. Kamu sudah janji untuk selalu menemaniku melihat senja di bawah pohon jamblang ini. Tapi kamu pergi meninggalkanku tanpa pamit. Kamu tidak tahu kan kalau aku kesepian. Sehari setelah kamu pergi aku mencarimu di bukit berpadas jalan yang  kita lewati sebelum menyeberang kali, aku terjatuh juga tak ada orang pun yang tahu.” Nurmala merajuk persis seperti saat dia masih kecil dan sambil menunjukkan bekas luka di kepalanya.
“Maaf  Nur, sekarang aku sudah berada di sini bersamamu. Tepat di senja jingga di bawah pohon jamblang ini. Lihat Nur, begitu marahnya ketika aku melihat cerobong – cerobong baja yang mengepulkan asap berjelaga di langit senja kita. Aku ingin melemparinya dengan segala benda hingga cerobong asap itu tertutup, hingga asap – asap itu tidak keluar lagi dari mulut monster – monster itu.”
Nurmala duduk meringkuk, menangkupkan kedua tangannya ke wajahnya. Dia menangis sendu hingga air matanya menghujan deras sampai ke tanah. Air itu terus mengalir meresap ke dalam tanah, jauh… jauh … jauh ke dalam tanah. Air mata Nurmala mengalir hingga di sekitar tempat Yuli duduk. Meresap hingga ke dalam tanah, jauh… jauh… jauh ke dalam tanah. Yuli terbelalak, disekitar tempat mereka duduk tumbuhlah tunas – tunas ilalang panjang dan juga rerumputan. Mereka tumbuh semakin cepat, seiring aliran air mata Nurmala yang semakin deras. Ilalang panjang itu mulai tinggi dan rumput – rumput itu mulai berbunga. Kemudian hinggaplah seekor burung parkit yang mungil di atas pucuk ilalang panjang. Burung parkit yang sedang memandang bunga rumput yang bergoyang – goyang terhembus angin. Seakan mereka sedang mengisyaratkan persahabatan yang riang dan ceria di bawah langit yang merah keemasan.
Bapak penggembala sapi dan kambing yang sudah sangat tua dan renta, bahkan giginya pun  sudah tanggal semua, mengamati liukan bunga rumput dan burung parkit tersebut. Dalam gumamnya dia berkata lirih, “Burung parkit cantik dan bunga rumput itu seperti dua anak kecil yang dulu pernah bermain – main bersama sapi – sapiku dan kambing – kambingku. Mereka terlihat cantik dan serasi.”

Semarang, 21 Februari 2013

ANGEL


BIDADARI SABTU MALAM



Dalam balutan angin malam yang mulai mengkristal, Ardian duduk di kursi sebuah taman dekat kota. Sabtu malam di Paris. Menunggu di tengah derai rindu yang selalu memburu. Tak berapa lama, seorang wanita bertubuh tinggi semampai mengenakan gaun warna hitam, datang menghampiri Ardian. Wanita keturunan indo Perancis. Angelique namanya. Dengan jemarinya yang lentik dan tangannya yang halus, Angelique menyambut tangan Ardian. Kemudian tubuh mereka lenyap dalam gemerlap kota. Berjalan bergandengan tangan menyusuri keramaian kota dalam balutan ingar yang bingar.
Mereka berdua memutuskan untuk makan malam di sebuah restoran berbintang. Kemudian mereka terlihat sedang terlibat percakapan dengan pelayan restoran.
Ardian: Vous avez une table pour deux personnes? ( Ada tempat untuk dua orang?)
GarÒ«on: Qui, monsieur, S’il vous plait. (Ada pak, silakan.)
Ardian dan Angelique mengikuti pelayan tersebut ke meja yang ditunjuk. Sembari mempersilakan mereka duduk, pelayan restoran tersebut kemudian menyodorkan daftar menu makanan dan anggur.
GarÒ«on: La selle d’agneau est notre spécialité d’aujourd’hui. (Punggung domba muda adalah sajian khusus hari ini. )
Ardian: On va prendre le menu du jour. (Saya pesan menu khusus hari ini.)
Angelique: Apportez-moi du saumon à l’américaine, s’il vous plait. (Berikan saya ikan salmon ala Amerika)
Garҫon: Très bien, Madame. Comme boisson? (Baik Bu, minumnya apa Bu?)
Angelique: Une bouteille de vin rouge de la maison, s’il vous plait. (Satu botol anggur merah dari restoran ini.)
Tak bisa dibayangkan, pertemuan ini benar-benar ditunggu mereka. Kesempatan yang sangat sayang sekali untuk disia-siakan. Duduk pada satu meja, dan saling berhadap-hadapan. Mata bertemu mata. Wajah Angelique masih sama seperti sepuluh tahun yang lalu, dengan rambut cokelatnya yang tergerai membuat yang memandang semakin bergairah. Bibir tipis yang telukis memerah, begitu menggoda untuk sekedar menggigitnya lembut. Ardian tak habis-habisnya memandang paras Angelique nan cantik jelita. Wanita yang sejak SMA dia kagumi. Wanita yang dianggapnya mendekati sempurna. Malam ini tak akan pernah disia-siakan oleh Ardian, Ia akan mencurahkan segala yang ada di dalam hatinya. Menyerahkan jiwanya hanya untuk Angelique.
Malam sepertinya lebih memilih untuk menjadi gamang. Mereka berdua sudah berada dalam apartemen milik Angelique. Apartemen dengan dinding-dinding yang mulai membeku dalam kubu yang beradu. Bibir Angelique mempertahankan suhunya hingga tetap hangat dalam lumatan bibir Ardian. Lidahnya seakan tercekat, tak mampu berkelu apalagi berkata-kata. Hanya ada lenguhan, dimana saat Ardian dapat memandang wajah Angelique yang juga hanya bisa melenguh. Malam yang bergeming, dalam pelukan Ardian ada tubuh seorang wanita yang selama bertahun-tahun Ia cintai dalam diam. Tubuhnya yang tinggi tetapi juga sintal meringkuk dalam naungan lengan Ardian yang kekar.
Dalam selimut yang kisut, di atas sprei yang berkerut tak beraturan, tubuh mereka rebah saling bertumpuan. Cahaya kemuning berpendar dari lampu yang berada di atas meja samping kiri tempat tidur. Kemudian cahaya tersebut menciptakan siluet yang menggeliat pada dinding yang semakin mendingin. Semakin liar di kala malam mencengkeram. Cermin yang tergantung tepat berhadapan dengan ranjang yang mulai ringsut karena ulah mereka berdua, seakan sedang merekam kisah mereka dalam kilau pantulannya. Jejeran buku-buku yang tertata rapi di rak, seakan saling berbisik satu sama lain melihat kehangatan kisah mereka yang sedang beradu. Ranjang berdecit seakan berteriak tanda tak mampu lagi menopang tubuh mereka yang semakin menggelinjang.
Hingga kemudian yang ada adalah ‘diam’ dan angin yang sedang berseloroh lewat celah jendela yang sedikit terbuka. Wajah mereka saling berhadap-hadapan, sesekali tangan Ardian membelai rambut cokelat Angelique. “Je suis amoureux de toi (aku cinta kamu),” suara Ardian berbisik lembut di telinga Angelique. “Je t’aime de tout mon coeur. Je veux être avec toi. (Aku mencintaimu sepenuh hatiku. Aku ingin bersama kamu.),” Angelique membalasnya dengan suara tak kalah lembutnya. Kemudian mengecup kening Ardian yang sedikit berkeringat. Mereka rebah, puas lelas meringkuk di atas ranjang. Dengan senyum yang melengkung di atas masing-masing bibir mereka.
Suara alarm berteriak seperti sedang menghardik Ardian. Ia pun terperanjat hingga jatuh ke lantai. Pukul 05.00 A.M masih terlalu pagi untuk bangun di hari minggu yang malas. Sepucuk kartu pos yang terselip di bawah ranjang tak luput dari penglihatan Ardian. Kartu pos bergambar menara Eiffel yang bertuliskan ‘Je prie toujours pour ton bonheur’ (Aku selalu berdoa untuk kebahagiaanmu). Dari Angelique.
Ardian terduduk di atas ranjang, termenung dalam lantunan sendu. Kartu pos yang telah dikirimkan Angelique lima tahun silam. Ardian terkesiap. Kemudian menoleh ke samping kanannya. Seorang wanita cantik sedang terlelap dalam biusan mimpi. Seperti halnya Ardian yang juga telah terbius dalam mimpi yang memabukkan. Mabuk hingga tak bisa membedakan mana itu mimpi atau nyata. Wanita cantik yang benar-benar cantik, yang telah melahirkan seorang putra baginya. Wanita yang telah dinikahinya lima tahun silam. Wanita yang sekedar ia cintai, tak seperti halnya cinta diam-diamnya kepada Angelique. Tapi juga wanita yang selalu sabar menghadapi sifat keras kepalanya. Wanita yang selalu setia bersanding dengannya, meskipun sedikit banyak Ardian masih berhubungan dengan cinta diam-diamnya.
Tak sepantasnya wanita cantik yang benar-benar cantik itu ia abaikan. Bibir Ardian bergetar. Jemarinya serasa kaku saat ingin menggapai tubuh wanita cantik itu. Wanita cantik itu bukan Angelique. Tapi seharusnya ia melindunginya lebih dari cinta diam-diamnya itu. Ardian menekuk kakinya hingga lututnya sejajar dengan dadanya. Kemudian ia membenamkan wajahnya diantara kedua tangannya yang menyimpul di atas lutut.
“Sayang….” Wanita cantik itu memanggil lembut. “Kamu kenapa sayang?”
Ardian terkesiap, dan hanya bisa memandang wajah wanita cantik itu yang berbinar diantara silaunya sinar mentari pagi itu. Wajah cantiknya seperti bidadari, tapi bukan Angelique. Ardian menyergap tubuh wanita itu, tanpa kata tanpa suara. Memeluk semakin erat, mengusap rambut hitamnya yang pekat. “Bidadariku.”

Catatan : GarÒ«on adalah sebutan untuk seorang pelayan restoran dalam bahasa perancis.
Semarang, 17 Februari 2013

Hello Sarah


LUKISAN CAHAYA



“Siapa sih itu?”
“Mana?”
“Cewek di seberang meja kita. Yang lagi sibuk ngetik.”
Suara kedua laki-laki itu terdengar lamat-lamat dari telingaku, karena suasana kafe yang riuh melenguh. Sesekali aku memperhatikan mereka sembari menghisap puntung rokok yang masih setengah di tanganku. Tanpa sadar salah satu dari antara mereka mengarahkan kamera DSLR kepadaku dan flash yang berasal dari kamera tersebut membuatku terkesiap. Langkahnya gontai menghampiriku. Sepertinya sedikit mabuk, tapi tidak ada botol chivas regal, cointreau, Red Label, atau semacam minuman yang saya sebut tadi di mejanya. Dia sudah duduk di depanku begitu saja. Sedikit risih memang, namun tetap mencoba untuk tenang. Tiba-tiba saja ia mengulurkan tangan. “Dave” Tanganku menyambutnya, “Violet”.
Ayahku keturunan Tionghoa-Belanda, sedang ibuku seorang jawa pribumi. Aku lahir dari keluarga yang sederhana, walaupun konon katanya kakekku adalah seorang pengusaha kaya yang terkenal pada jamannya. Namun hal tersebut tidak membuatku hidup bergelimangan harta. Koleps. Paling tidak cukup untuk hidup sehari-hari itu sudah bersyukur sekali. Sejarah yang diukir oleh keluargaku tersebut mengajarkanku bahwa segala yang ada di dunia ini tidaklah kekal. Punya banyak perusahaan, harta melimpah, sampai-sampai satu orang anak diberi satu orang kacung, padahal ada enam anak kalau saya tidak salah ingat. Lalu, mobil-mobil keluaran Eropa dan Amerika berjejer memenuhi garasi, padahal pada saat itu punya mobil satu saja sudah bisa disebut mentereng.  Beberapa lemari berisi jas, dasi, sepatu dan jam tangan yang bisa dilihat labelnya bertuliskan ‘made in Paris’, ‘made in Italy’, ‘made in Germany’. Tapi kekikiran seorang manusia yang tega berhianat kepada saudaranya sendiri membuat semua yang fana itu lenyap. Perusahaan ‘Naga’ yang dipersiapkan untuk anak laki-lakinya  tiba-tiba diambil alih oleh saudara sepupunya. Hingga sampai pada suatu saat Pengusaha kaya yang kupanggil dengan ‘engkong’ tersebut jatuh sakit. Dan pada akhirnya semuanya menjadi hancur. Hingga tidak ada jejaknya sama sekali. Hanya ada perusahaan ‘Naga’ tersebut masih berdiri gagah di kota Jakarta. Itupun bukan lagi atas nama beliau. Dunia itu kejam. Dunia mengajarkanku menjadi orang yang keras, namun tidak melupakan sosialitas……..
“Hey! Serius amat nih.” Suara Dave memecahkan konsentrasiku.
“Bawel ih. Nggak lihat apa aku lagi bikin tulisan.” Mataku melotot ke arah Dave sembari melepas kacamataku.
 “Iya Sorry. Cerita apa ini Vi?”
“Cerita pendek, mau aku kirim untuk lomba cerpen.”
“Tentang kamu ?”
“Ih pengen tahu aja deh. Ntar kalau udah kelar aku kasih lihat deh.” Lalu aku segera membereskan dan memasukan barang-barang yang tergeletak di meja ke dalam tas ranselku.
“Yuh makan siang, sambil aku mau omongin konsep foto buat kamu. Aku nggak betah lama-lama di perpustakaan ini.”
“Konsep apaan? Aku kan udah bilang nggak  mau difoto sama fotografer gadungan kayak kamu.” Sambil pelan memukulkan majalah ke kepala Dave aku segera melangkah keluar, Dave pun menyusulku.
***
Sinar lembut yang berpendar dari softbox, yang diatur sedemikian rupa membuat terang benderang menyorot tubuhku. Lagi-lagi cahaya flash menyentak pupilku hingga menciut, ketika Dave sibuk memencet tombol shutter dari kameranya. Aku menerima tawaran Dave untuk dijadikannya modelnya. Untuk melengkapi portofolio katanya, dan saat melihat konsepnya aku langsung tertarik. Ya aku pikir apa salahnya membantu teman. Waktu dua bulan menurutku  sudah cukup untuk mengenal Dave. Begitu juga karya-karyanya yang tidak sekedar menampilkan kecantikan model-modelnya, namun aku bisa melihat proporsi dan komposisi dalam gambar tersebut yang begitu harmonis. Aku bisa melihat dan merasakan bahwa Dave memiliki jiwa seni yang tinggi.
Dibantu dengan Roby sebagai asistennya, dia membangun studio foto yang berperalatan lengkap. Ya maklum saja, Dave anak orang kaya. Hampir semua peralatan yang berhubungan dengan photography dia punya. Aku tak habis pikir, dengan peralatan yang mahal tersebut dan dengan sedikit latihan, aku yakin hasilnya akan bagus. Hal itu sudah terdengar biasa bukan. Namun akan berbeda lagi jika dengan segala keterbatasan alat, diolah dengan tangan yang tepat, dan hasilnya bisa maksimal. Nah itu baru disebut dengan luar biasa. Tapi bukan berarti Dave termasuk photographer yang digolongkan manja dengan kemewahan alat. Dengan camera pocket pun hasilnya jepretannya tidak kalah bagus. Menjadikan lukisan cahaya itu begitu bernilai.
Sore ini aku memutuskan hanya ingin berdiam di kamar saja sambil menyelesaikan tulisanku. Rinai hujan, lembab bau tanah menciptakan atmosphere yang meriak dalam otakku. Begitu banyak ide yang membuncah tak sabar ingin keluar. Kamar kost berbentuk kubus beton yang lebih menyerupai gudang, lantas tak membuat passion-ku padam begitu saja. Menurutku dimana pun imaginasi dan ide bisa tercurah. Yang memerintah adalah otak kita, bukan suasana sekitar kita. Aku bisa menciptakan atmosphere-ku sendiri dengan jalan pikiranku sendiri.
Ketika jari-jemariku menari di atas keyboard laptop, tiba-tiba Dave sudah ada di belakangku. Kepalanya melongok begitu saja ke arah layar laptop. Serontak badanku menyembul ke atas karena kaget.
“Ketok pintu dulu kek!” Tungkasku kepada Dave dengan jengkel.
“Ya abisnya itu pintu nggak ditutup, aku panggil nggak denger. Ya udah aku masuk gitu aja.”
“Iya, sengaja aku buka pintunya, biar hawa luar bisa masuk.”
“Eh Vi, aku ke sini mau cerita ke kamu tentang portofolioku.”
“Cerita apa? Ya udah cerita aja deh, aku dengerin.”
“Jadi gini, kemarin pagi aku dapet email dari designer terkenal. Dia ngeliat portofolioku di web yang memang aku buat khusus untuk promosiin hasil karyaku. Tadi siang aku udah ketemu sama orang itu, dia setuju make jasaku untuk bikin katalog rancangan busananya. Nah ini nih yang paling penting, dia mau modelnya itu kamu.”
“Haaa?”
“Ha he ho ha he ho, dia mau besok lusa kita udah siap. Kamu mau kan bantu aku? Masalah duit gampang deh. Nanti kita bagi tiga, Aku, Roby, Kamu. Adil kan.”
“Gila kamu, kenapa nggak tanya aku dulu setuju atau enggak. Maen deal-deal-an seenaknya.” Kataku pada Dave, sembari meraih cangkir berisi kopi tubruk.
“Ini kesempatan Vi, nggak semua model bisa gampang banget mengenakan busana rancangannya. Dia kan memang terkenal nyentrik dalam memilih model. Gimana? Coba deh pikirin dulu. Kesempatan nggak datang dua kali.”
*hening* Hanya ada suara rerintik hujan. Risau angin yang berhembus, menyibak reruntuhan kabut yang mulai menebal di otakku. Larut-hanyut-larut-hanyut kemudian pergi.
Di tengah lambungan mimpi sisa semalam, aku terhenyak dari antaranya. Suara dari ponselku menghardik berulang-ulang, dari Dave. Sepuluh menit lagi dia akan sampai di kostku, aku disuruh bersiap-siap untuk pemotretan. Seenaknya sendiri dia memerintahku, tanpa memberitahukan jam pemotretannya terlebih dahulu. Segeralah aku pergi mandi dan bersiap-siap. Namun baru saja aku meraih handuk, Dave sudah berada di ambang pintu kamar kostku.
“Wiliiih, dasar kamu kebo Vi, kalo nggak aku bangunin pasti deh tu nggak bangun.”
“Lagian juga kamu mendadak gitu kabarinnya. Nggak kasih tahu jam berapa mulainya.” Sahutku sambil berjalan melangkah ke kamar mandi.
“Heh, baca tuh message di ponsel kamu. Perasaan juga tidur awal, bangun juga masih bisa siang gini.”
“Dasar bawel, mana ada tu message.” Teriakku dari dalam kamar mandi, namun Dave tak menyahut lagi.
Dengan langkah yang buru-buru aku segera menuju ke mobil bersama Dave. Dengan berbusana seadanya, kaos, celana jeans dan juga sneakers. Rambut panjangku pun kuikat semauku. Namun Dave tak berkomentar apapun dengan cara berpakaianku yang terlampau santai ini. Baginya tak masalah dengan penampilan, yang dia utamakan adalah skill dan profesionalitas. Katanya sih walau aku nggak cantik, tapi tampangku menjual. Ya, dia lah yang mengerti photography. Dia juga yang mengerti mana yang pas atau mana yang kurang pas.
Sesampainya kami di tempat pemotretan, Roby sudah stand by di sana untuk menyetting lighting dan peralatan lainnya. Aku langsung disambut dengan asisten Tante Grace sang designer terkenal. Asistennya yang bernama Mbak Lutfi, tampak memandang keberadaanku dengan remeh sekali. Seperti ada hal yang membuatnya tidak suka padaku, caraku berpakaian mungkin. Entahlah. Ya tentunya tak kuhiraukan dia.  Deretan peralatan make up sudah siap menghiasi wajahku. Hingga kemudian aku siap untuk berpose di depan kamera.
Selesai pemotretan Dave mengajakku mampir ke kafe biasa kami kunjungi. Senja yang tak bergeming, menanti remahan kisah kasih yang telah menggebu. Sayang sekali jingga yang seharusnya menari indah di bentangan cakrawala, tak dapat kunikmati di tengah kota yang riuh gemuruh ini. Hanya ada selorot mentari yang menyisakan cahayanya lewat tingkap jendela.
“Hey, ngalamun aja, Vi.” Ujar Dave kepadaku yang sedang asyik melihat pemandangan jalan lewat celah jendela.
“Ah, enggak. Mungkin kecapekan kali Dave.”
“Ya udah, makan dulu.”
“Iya, nanti aja deh Dave. Nggak laper.”
“Eh Vi, entar aku nebeng tidur di kost kamu ya. Please.”
“haah?! Ngapain kamu. Itu tu ikut Roby aja. Nggak tidur di studio aja? Kenapa sih kamu?”
“Lagi ada masalah sama Papah, males pulang aja Vi. Si Roby kan ada istrinya, nah aku jadi nggak enak.” Tatapan mata Dave seakan tidak tenang, tanggannya gemetar dan sesegera mengambil sebatang rokok dan menyalakannya dengan pematik.
“Hadeeeeh, emank ya kamu ini. Udah tua pake kabur-kabur segala. Ya udah, tapi inget semalem aja. Satu lagi, kamu tidur di sofa.”
“Iya bawel, lagian nggak akan deh macem-macem.”
Malam ini angin berhembus sedikit kencang. Kuintip dari celah jendela kamarku bulan melengkungkan senyuman yang membuatku pun ikut tersenyum. Aku berniat melanjutkan tulisanku. Sejenak kuperhatikan Dave yang sedang membersihkan perangkat kameranya, tak banyak kata. Tak seperti biasanya. Aku tak mendesaknya untuk cerita. Aku hanya diam dalam duniaku sendiri, bergeming dalam tulisan-tulisanku.
Sudah kelewat malam mataku terus beradu dengan layar laptop. Malam telah larut, dan kulihat Dave pun larut dalam deraian mimpi. Tubuhnya yang tinggi besar terlelap di atas tempat tidurku, seperti beruang yang sedang hibernasi. Paras Dave yang sedang terlelap mengundangku untuk tersenyum. Tampan. Ah, sudahlah. Kemudianku kembali hanyut dalam barisan kata-kata dan imaginasiku yang menjadi liar.
Secercah cahaya mentari mengintip lewat celah-celah tirai jendela. Tak sadar kalau kepalaku tergeletak di atas meja, dengan laptop masih menyala. Kudapati Dave sudah tidak ada di tempat tidur. Saat kutengok dari jendela mobilnya masih parkir di halaman depan. Suara engsel pintu yang mereot mengagetkanku.
“Kamu capek ya Vi? Ini aku bawain sarapan. Tadinya mau aku ajak keluar sekalian, tapi nggak tega bangunin kamu.” Ujar Dave dengan menyodorkan sebungkus makanan kepadaku. Aku hanya bergeming, serasa roh-roh yang tinggal dalam tubuhku belum genap kembali lagi.
“Udah sana mandi dulu, abis itu makan.” Kata Dave sembari mengacak-acak rambutku.
“Iiih iya iya bawel.” Aku langsung menyambar handuk dan menuju kamar mandi.
***
Sudah genap dua minggu aku tak bertemu Dave, menerima SMS atau teleponnya pun tidak. Gelisah bercampur resah. Aku hanya mendapat pesan singkat dari Roby, yang menyuruhku untuk mengambil fee ke studio. Aku tak habis pikir, kenapa tidak Dave sendiri yang menghubungiku. Biasanya juga dia langsung meneleponku. Sekarang aku sudah berada di studio, namun tak kudapati Dave. Hanya ada Roy, yaitu adik Dave dan Roby. Roy memang akhir-akhir ini sering membantu mengelola studio tersebut.
“By, anyway si Dave kemana?” Tanyaku kepada Roby yang sedang sibuk mengolah foto.
Roby seperti risau, gelagatnya tak tenang. Lalu sesekali memandang ke arah Roy, dan kemudian mereka hanya saling beradu pandang. Dengan derap langkahnya yang seakan terseok, parasnya terlihat muram, Roy menghampiriku.
“Vi, kita ke rumahku saja ya. Aku mau nunjukin sesuatu ke kamu.” Suara Roy tercekat, begitu dalam.
“Ada apa sih ini?” Namun kemudian Roy meraih pergelangan tanganku dan mengajakku pergi ke rumahnya.
Di setiap perjalanan Roy hanya bungkam. Pandangannya terus menuju ke depan, tak menghiraukanku yang duduk di sebelahnya. Aku tak mengerti, aku mencoba mengikuti alurnya saja. Dan aku pun diam sampai akhirnya sampai di rumahnya.
“Terus Dave dimana?” Tanyaku kepada Roy, ketika dia membawaku masuk ke kamar Dave. Kulihat di dinding-dinding kamarnya terdapat foto-fotoku. Ha? Ya semua itu foto-foto wajahku. Aku tertegun melihat semua ini.
“Vi, aku mau sampein pesan Dave untuk kamu. Tapi janji kamu jangan marah atau sedih, atau apapun yang bikin Dave juga ikut sedih.”
“Apa Roy?” Tanyaku dalam geming.
“Aku minta maaf karena kami tidak memeberimu kabar, ini permintaan Dave. Kalau Dave sudah….”
“Dave kenapa? Ada apa dengan Dave?” Tanyaku semakin menghujam tajam.
“Dave meninggal, Vi.”
Lidahku seperti tercekat mendengarnya. Wajahku serasa ditampar. Serontak air mataku tak mampu bertahan di kelopak mata. Mengucur deras.
“Dia terkena kangker otak, yang sebenarnya sudah lama dideritanya. Setelah pulang dari menginap di tempatmu penyakitnya kambuh, dia terus-terusan menghantamkan kepalanya ke dinding. Aku pun tak tega melihat keadaannya. Dokter pun tak bisa menyelamatkannya, karena memang begitu kejamnya penyakit itu hingga menyebar dan menggerogoti tubuhnya. Dave tidak mau kamu tahu penderitaannya, maka dari itu dia menyembunyikan semua ini ke kamu. Vi, Dave sayang banget sama kamu.” Roy memberikan sepucuk surat kepadaku. Dari Dave.
Selembar kertas yang bertuliskan huruf-huruf dengan tinta pena berwarna hitam pekat itu,  selebihnya aku sebut sembilu. Rasanya seperti menghujam dadaku berkali-kali. Dave bilang di surat itu kalau dia sayang padaku, namun ini tak adil. Dia tak mengijinkan aku untuk memberitahukan perasaanku. Ini seperti bilur yang tersiram buih ombak pantai. Perih. Tangisku sesenggukan. Roy memelukku untuk meredam tangisku. Dia pun tak sanggup menahan aliran air matanya, ketika melihatku terpuruk.
***
Cerita pendekku sudah selesai.
***
“Siapa sih itu?”
“Mana?”
“Cewek di seberang meja kita. Yang lagi sibuk ngetik.”
Suara kedua laki-laki itu terdengar lamat-lamat dari telingaku, karena suasana kafe yang riuh melenguh. Sesekali aku memperhatikan mereka sembari menghisap puntung rokok yang masih setengah di tanganku. Tanpa sadar salah satu dari antara mereka mengarahkan kamera DSLR kepadaku dan flash yang berasal dari kamera tersebut membuatku terkesiap. Langkahnya gontai menghampiriku. Sepertinya sedikit mabuk, tapi tidak ada botol chivas regal, cointreau, Red Label, atau semacam minuman yang saya sebut tadi di mejanya. Dia sudah duduk di depanku begitu saja. Sedikit risih memang, namun tetap mencoba untuk tenang. Tiba-tiba saja ia mengulurkan tangan. “Roy” Tanganku menyambutnya, “Carmella”.
SEMARANG, 02 FEBRUARI 2013